Rabu, 02 Juni 2021

Menyelamatkanmu Dariku

Aku, manusia egois yang kau ajak berkenalan di siang bolong saat hatiku memang sedang kosong. Kamu datang dengan sangat ramah dan wajah rupawan. Mendekatiku, seorang perempuan yang menakutkan. Menyembunyikan setiap kekotoran masa lalunya untuk dirinya sendiri 

Kamu dan kesedihan hidupmu. Membuatku terenyuh dan tak tega. Aku tiba-tiba ingin menjadi seseorang yang mampu menghapus luka dan tangismu. Tanpa sadar, tanpa melihat bahwa lukaku juga belum sepenuhnya sembuh. 

Akupun masih bermimpi setiap malam tentang semua kenangan menyakitkan bersamanya yang lain. Setelah tahun-tahun panjang dan perpisahan yang begitu menyakitkan. Aku masih kerap memikirkan dia. Bukan kamu. Diam-diam tanpa kamu tahu. Aku sedang berbohong dengan lihainya. Menyembunyikan luka. 

Kamu, laki-laki baik yang aku temui. Ditempa dengan begitu keras oleh kehidupan. Aku hanya seonggok barang rongsok yang tidak berharga. Mencoba mencari arti dari setiap takdir yang Tuhan rencanakan terhadapku. Kenapa harus datang sekarang? 

Maka, pergilah. Dengan segala upayamu. Temukanlah. Tolong. Bahagialah. 

Mengertilah, aku sedang menyelamatkanmu... 
Dariku... 

Jumat, 16 April 2021

Menjadi Manusia Toksik

Beberapa manusia dilahirkan menyerupai tanaman mawar. Begitu indah dipandang tapi akan sangat menyakitkan dan tidak nyaman ketika didekati dan dipegang. 

Beberapa manusia tercipta dan terbentuk dengan ditempa berulang kali layaknya permata. Meskipun, tidak semua menjadi permata. Banyak yang berakhir menyedihkan menjadi abu. 

Beberapa manusia berlari seakan dikejar anjing galak di belakangnya. Meskipun sebenarnya tidak apa-apa. Mereka menciptakan realita mereka sendiri tanpa benar-benar membuka mata. Hingga napasnya terengah-engah dan mati sesak. 

Seumur hidup aku hidup atas pengakuan oranglain. Harga diriku terletak pada pendapat orang terhadapku. Aku begitu sibuk mendengarkan apa yang dikatakan orang terhadapku. Malangnya, aku tidak mau mengakui itu dan menunjukkan sikap defensif. Aku tidak baik-baik saja ketika membiarkan diriku menjadi orang yang demikian. 

Ketika semua orang terasa pergi meninggalkanku. Aku hanya punya diriku sendiri untuk melihat ke belakang. Merunut kejadian demi kejadian yang terjadi. Dan yang terjadi adalah perseteruan besar di dalam kepalaku. 

"Kamu pikir dengan meminta maaf cukup untuk memperbaiki semua yang sudah terjadi. Itu hanya kamu egois yang kemudian berpikir bahwa minta maaf cukup mengangkat semua kegelisahanmu sendiri. Tapi tidak akan pernah membuat semuanya kembali seperti awal." 

Awalnya kata-kata juga menyakitkan bagiku seperti kata-kata dia yang lain. Tapi, setelah ku pikirkan matang-matang. Untuk yang satu ini, dia ada benarnya. 

Aku terlalu naif berpikir bahwa dengan meminta maaf semuanya akan berbalik seperti dulu. Aku sendiri belum sembuh. Bagaimana bisa aku seperti menuntut oranglain untuk segera sembuh dan baik kepadaku. 

Aku harus sangat baik kepada diriku sendiri meskipun diluar sana begitu banyak hal yang mudah membuatku takut, sakit, marah dan kecewa. Aku harus sangat erat memeluk diriku sendiri saat oranglain begitu mudah membuang, melempar dan meninggalkanku. Dengan begitu duriku tidak terlalu tajam dan berubah menjadi sebatang bunga dandelion yang sederhana dan indah. 


Selasa, 06 April 2021

Meskipun Aku Tidak Mengerti, Bicaralah

Setiap hubungan dibutuhkan komunikasi aktif yang terjalin. Karena membangun hubungan sama seperti interaksi sosial lainnya yang tidak bisa dilakukan sendirian. Dan seperti hubungan sosial yang lainnya, apapun yang dilakukan bersama oranglain diluar diri kita itu tidak mudah. Butuh banyak percobaan dan ribuan kegagalan untuk bisa memahami isi kepala seseorang. 

Seperti aku yang gagal membacamu. 

Aku selalu berharap terlepas dari banyaknya orang-orang yang tersakiti akan hubunganku dan kamu, kita akan bisa melewatinya. Namun, aku terlalu naif untuk memaksamu berubah menjadi sosok yang aku mau. Aku terlalu percaya bahwa semua hal indah milik kita berdua akan selalu ada dan seterusnya bertahan. 

Andaikan saja kamu mau mengerti. Andaikan saja aku mampu mengerti. 

Tapi, meskipun kita tidak saling mengerti. Aku hanya ingin bicara. Padamu.

Meskipun nantinya aku tidak mengerti, bicaralah... 

Dan dengarkan saja apabila nanti yang bisa kulakukan hanya menangis. 

Selasa, 30 Maret 2021

Kenapa Aku Tidak Bahagia?

    Selama ini aku hidup dengan menggantungkan harapan pada sesuatu yang diluar kendaliku. Nasib, finansial, asmara dan bahkan pandangan orang terhadapku. Kalau aku bekerja di pemerintahan aku akan membuat orangtuaku bahagia sehingga aku bahagia. Kalau aku mempunyai uang yang banyak aku akan bahagia. Kalau kekasihku mampu menjadi orang yang ideal untukku maka aku akan bahagia. Kalau orang lain menganggapku sebagai sosok yang baik dan dapat diandalkan maka aku akan bahagia. 

    Faktanya, aku tidak bahagia. Aku sudah bekerja di pemerintahan, orangtuaku bangga. Aku tidak bahagia. Aku lupa apa yang benar-benar ingin ku lakukan dalam hidupku. Mimpiku yang sesungguhnya. Aku mempunyai gaji tetap di dalam rekeningku. Aku tidak bahagia. Kekosonganku membuatku terbiasa berbelanja secara berlebih dan tidak mampu mengatur keuanganku dengan baik sehingga aku tidak tahu cara menabung. Aku putus setelah 4 tahun lebih pacaran. Aku tidak bahagia setelah menyadari banyak hal yang sudah salah sejak awal memulai hubungan ini. 

    Aku tidak tahu bahwa banyak hal yang membuatku bahagia adalah semua keinginan yang sesungguhnya di luar kendaliku. Hal yang seharusnya aku biasakan dan tahu sejak awal sesungguhnya adalah bagaimana mengatur perspektif, nilai dan opini yang aku proses di dalam otakku. Stoic mengajarkanku bahwa kebahagiaan sesungguhnya bukan apa yang ada di luar kendali kita. Selama aku lebay mengurus dan mengharapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak bisa ku kendalikan, lebih baik aku sibuk belajar untuk mengubah sudut pandangku untuk sama sekali tidak beremosi. Maka, aku akan bahagia. 

Jumat, 19 Maret 2021

Demanding

 Akhir-akhir aku berpikir keras tentang cinta dan siklus pertemanan dalam hidupku. Aku berpikir tentang bagaimana aku harus bersikap dan memperbaiki masa kini. Satu hal yang terpikir adalah teman lamaku yang pergi (atau mungkin ku dorong untuk pergi, entahlah) dari hidupku. Satu permasalahan pelik yang membuatku benar-benar berpikir keras entah bagaimana aku harus menghadapinya dan apakah aku ingin mereka kembali. 

Sejujurnya, aku hanya terpikir tentang betapa menyakitkannya kata-kata mereka terhadapku. Aku tidak tahu apakah ini karena ekspektasi mereka tentang "bagaimana teman yang baik harus bersikap", yang pasti aku sudah keluar dari daftar. 

Aku pikir teman yang baik seharusnya mau menerima. Mereka pikir, mungkin teman yang baik harus tahu diri kalau sudah dibantu. Tapi aku hanya ingin mereka tetap ada. Ada ketika aku ingin tiba-tiba datang. Ada ketika aku ingin mereka bercerita tentang masalahnya. Ada ketika aku ingin menyampaikan kabar bahagia. Tapi yang mereka ingat mungkin hanya saat ketika aku membutuhkan tempat sampah untuk membuang semua masalah hidup. 

Mungkin di masa lalu ada beberapa kesempatan aku sangat menuntut teman-temanku juga. Mungkin dari situlah semua berasal. Aku juga ingin agar mereka mampu menjelaskan semua perasaannya tanpa harus menyalahkanku. Aku sudah cukup merasa buruk. Aku tidak butuh diperlakukan lebih buruk lagi. 

Kalau saja mereka mau melihat usahaku untuk kembali ke tempat yang lebih baik. Membalikkan kondisi ku yang sangat terpuruk dan kembali ceria. Menjadi pribadi yang lebih sehat secara mental. Kenapa mereka tidak bisa berkata lebih sopan dan menghargaiku. Mungkin dengan begitu, keadaan tidak seburuk ini. Sudah cukup aku disalahkan oleh diriku sendiri. Setidaknya, mereka bisa berkata lebih baik. Bukan menoleh ke arah lain ketika aku sedang berbicara dan menyepelakanku. Seolah aku tidak berharga.

Kalau memang tidak ada simpati. Bukankah seharusnya kita memang tidak perlu berteman sejak awal. 

Kalau keberadaanku hanya lelucon. Bukankah seharusnya kalian tidak perlu menuntutku lebih jauh hanya untuk menginjak hati yang sedang ingin pulih ini. 

Aku akan hidup menjadi orang yang lebih baik. Aku akan bahagia dengan caraku. Terimakasih atas sarannya. Tapi aku hanya butuh seorang pendengar yang baik. 

Minggu, 17 Januari 2021

Move On

Kita berdua berada di persimpangan jalan. Jalan satunya aku tak suka. Jalan yang lain, aku lebih suka. Menyedihkan karena kita tidak sepaham. Kamu tidak bisa diganggu sedangkan aku hanya rindu. Aku menganggap kamu beranjak pergi. Kamu mengatakan aku terlalu egois. 

Bertemu denganmu seperti menelan permen karet yang buruk bagi gigiku. Mengenalmu adalah merasakan manis dari rasanya namun sakit ketika mengunyah sari-sarinya. Kamu adalah hal terindah yang buruk bagi kesehatanku. 

Berhenti mencintaimu merupakan keputusan yang spontan dan penuh amarah. Tujuannya hanya satu. Aku ingin kamu terluka sebanyak kamu sudah melukaiku. Setelah itu, aku tidak semakin bahagia. Aku terpuruk. Jatuh di lubang nestapa. Dahulu aku pernah berpikir bahwa kamu orang yang bisa kuandalkan. Ketika aku hanya sedang kesepian dan butuh teman bicara. 

Berhenti mencintaimu merupakan keputusan bulat untuk tidak memulai komitmen apapun dengan siapapun. Bukan karena aku tidak yakin ada orang yang mau menyayangiku. Lebih karena aku tidak mau menyakiti dan tersakiti oleh siapapun lagi. Enough is enough. 

Aku masih menyalahkanmu. Aku masih terlalu marah padamu. Aku masih merindukan sahabat-sahabatku. 

Sialnya lagi, aku masih terlalu membenci untuk mencintaimu. 

Move on adalah aku yang kemudian dengan bangga mengatakan pada semua orang bahwa aku sudah bebas dari hubungan toxic ini. Aku tidak tahu apakah aku akan menikah. Atau bahkan memutuskan menikah. Sejak hampir 5 tahun, pernikahan dibayanganku adalah merawatmu dan semuanya sudah lenyap. Terimakasih untuk semuanya. Maaf untuk keterbatasan ini. 

Selasa, 01 Desember 2020

Letting Go

    Hidup tidak akan pernah terlepas dari emosi-emosi yang timbul ketika kita menghadapi konflik. Emosi itu mampu menggerogoti kita selayaknya bumerang yang tadinya dimaksudkan untuk kembali menyakiti orang yang sudah membuat kita sedih, marah, bahkan kecewa. Emosi yang tadinya ditujukan untuk melindungi diri kita sendiri. 

    Selama hidup, aku selalu menganggap diriku adalah orang yang paling menyedihkan. Aku selalu berharap oranglain dapat berbuat baik padaku seperti halnya aku sudah berusaha untuk berbuat baik pada setiap orang. Tapi, aku salah. Di mata oranglain aku adalah orang yang ceroboh, menyebalkan, suka ikut campur dan asal bicara. 

    Aku belajar bahwa dalam hidup ini tidak ada yang bertahan selamanya. Bahkan dalam halnya hubungan pertemanan dan cinta. Setiap aku dihadapkan pada perselisihan yang mengharuskanku untuk memilih, aku tidak pernah yakin bahwa pilihan yang ku ambil benar untuk diriku sendiri. Aku tidak mengerti bagaimana harusnya bersikap ketika dihadapkan pada suatu yang pelik. Aku hanya ingin hidup tenang. Aku tidak ingin memilih antara apa dan siapa, aku hanya ingin ditemani. 

    Aku hanya ingin semuanya tetap sama. 

    Tapi hidup tidak seperti hamster dalam roda putar yang mau diajak jalan di tempat. Ia akan membawamu terjungkal, tergulung bahkan terbentur berkali-kali untuk memberikanmu pelajaran. Hal-hal yang akan membuatmu lebih baik lagi kalau kau mau melihat dengan lebih jernih. Terlepas dengan emosi-emosi negatif yang seperti melawanmu. Menahanmu pada masa lalu dan enggan menghadirkanmu pada masa sekarang. 

    Sulit, memang sulit ketika kamu melihat sekitarmu seolah nampak baik-baik saja ketika kamu dan masalahmu terlihat begitu menderita. Terpuruk. Kamu seolah tertarik pada jurang terdalam yang gelap dan tidak ada orang yang mampu mengeluarkanmu dari sana. 

    Lama kamu berada di dalamnya. Hingga lupa cara menangis. Hingga lupa caranya meraung meminta tolong. 

    Kemudian, dalam perjalanan melepaskan ini. Aku mencoba mendengar. Jauh ke dalam diriku sendiri. Semua luka, penyesalan dan caci maki di dalam diri. Aku mencoba berbaik hati pada diriku sendiri. Aku mencoba memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya sudah selesai. Setiap ikatan yang tidak untukku, memang baiknya tidak ditarik terlalu kencang. Aku hanya membuat tanganku berdarah. Aku dengan nada lembut menyuruh diriku untuk melepaskan dengan hati yang lapang. 

    Karena hanya aku, yang dapat menyelamatkan diriku sendiri. 

    Jadi mari kita lepaskan saja semua ini. Aku sudah memaafkanmu. Aku sudah memaafkan diriku sendiri. Semoga kalian menemukan apa yang kalian benar-benar inginkan dalam hidup ini. Terimakasih sudah menjadi bagian hidupku ketika aku masih remaja hingga proses menuju dewasa. Aku akan selalu merindukan saat-saat tertawa bersama. Meskipun, masih ada kata menyakitkan yang ikut terseret kembali dalam memori. Tapi, aku tahu. Aku pernah bahagia bersama kalian semua. 

Jumat, 24 April 2020

Teman

Dia datang padaku membawa surat kertas bergambar kartun dari binder. Seseorang yang wajahnya sudah tidak lagi bisa aku temui sejak 5 tahun ini. Saat mengingat kembali momen itu, aku merasa rindu juga bersalah. Aku lupa kronologi detail nya, yang aku ingat hanyalah sekelebat kenangan yang terbatas sekali dan perasaan di dalamnya.

Surat itu berisi tentang perasaan seorang gadis cilik kepada gadis cilik lainnya yang ingin dia ajak berteman. Aku mungkin hampir tidak pernah membahasnya dengan Almarhumah Lele-si pengirim surat (menjadi hal yang sealu aku sesalkan). Tapi, ada banyak hal yang terjadi diantara kami berdua sejak surat itu sampai di tanganku dan tidak pernah aku balas. Kita tetap berteman tapi entah lah, pertemanan kami sedikit aneh dan terkadang sulit untuk dimengerti bahkan kepada satu sama lain.

Tumbuh besar dengan pengalaman yang sedikit akan persahabatan, di umur kepala dua ini aku mengerti bahwa aku belum-belum benar menyayangi teman-temanku seperti mereka menyayangi ku. Aku yang dahulu hingga sekarang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Aku yang selalu egois dengan aku. Aku yang tidak pernah mengingat hari ulang tahun teman-temanku karena malas. Semua sikap ini sedikit banyak melukai teman-teman. Belum ditambah sederet kebodohan akan sikap dan perkataan selama teman-temanku membutuhkan ku sebagai seorang pendengar atau orang yang didatangi ketika mereka sedang terpuruk.

Aku hampir jarang ada.

Aku berakhir menjadi seseorang yang menghabiskan waktunya dengan sendirian. Aku marah kepada semua hal dan orang-orang di sekitar ku saat aku merasa benar-benar kesepian. Aku lupa cara berkata baik dan meminta tolong untuk ditemani karena aku tidak ingin sendiri. Aku sudah lupa caranya.

Tidak ada yang mengatakan padaku bahwa ada seseorang di sana yang menunggu ku untuk bermain bersama. Sejak aku tidak pernah benar-benar menghargai apa yang ada sebelumnya. Hingga kini, aku hanya berteman sepi dan kegelapan di sekelilingku.

Terimakasih, sudah pernah hadir dan membuatku tertawa.

Maaf, karena tidak bisa membuatmu tinggal lebih lama.

Teman.... 

Selasa, 03 Maret 2020

Nostalgia : Masa Kecil

Kisah ini tidak akan hadir tanpa kisah lain seperti pertemuan dan romansa dari kedua orangtuaku yang memutuskan untuk hidup bersama. Kisah ini hanya sepenggal terpotong dibalik kisah-kisah manusia lain yang mungkin saja sama. Kisah ini tidak ada bedanya dengan kisah-kisah lain yang putus asa, benci dan terdengar sangat depresif. 

Aku lahir dan dibesarkan dengan masa kecil yang tidak terlalu banyak bisa dikenang. Teman masa kecil yang aku ingat sampai sekarang mungkin hanya dua tetanggaku yang sekarang entah bagaimana nasibnya karena mereka sudah lama pindah dari rumah yang dulunya mengontrak di tanah orang lain-pinggir kali (sungai kecil), almarhum Lele (Cindi) dan Putri (saudara sepupuku). Pada ingatan yang hanya bisa diraba, rasanya sejak dahulu aku memang kesulitan untuk berinteraksi dengan orang.

Dulu ibuku melarang aku berteman dengan siapapun. Sebuah pesan yang aku ingat sampai sekarang. Kisah dibalik itu yaitu karena semua orang pada akhirnya akan pergi.

Semua orang yang aku anggap teman. Pada akhirnya akan menjadi orang yang pertama pergi meninggalkanku sendirian. Kepergian demi kepergian yang membuatku tumbuh menjadi-entahlah seseorang yang suka memberi batas pada orang baru. 

Sejak kecil, aku sangat akrab dengan perasaan kesepian. Rasa sepi yang kerap muncul selalu meminta ditemani. Racun yang berubah menjadi perasaan obsesi yang tiada habisnya ketika datang orang baru menawarkan ikatan entah itu pertemanan atau asmara. Lama-lama aku sadar, sikapku mudah membuat orang muak. Siapa aku... 

Berani menahan seseorang untuk terus bersamaku.

Aku yang masih kecil selalu haus perhatian. Anak pertama yang awalnya hanya meminta satu adik saja. Bertambah menjadi dua, tiga. Teringat pertama kali aku pergi dari rumah mengetahui ibu hamil lagi. Seolah sudah cukup melihat betapa aku yang masih kecil harus melihat perhatian kedua orangtuaku terbagi. Aku pergi tidur di rumah saudaraku yang jaraknya mungkin hanya 20 langkah dari rumah. Ibuku sibuk menelpon bude menanyakan keberadaanku dan aku yang enggan berbicara dengannya. 

Sebagai anak pertama, sejak kecil aku merasa sudah menanggung beban begitu berat di pundakku. 

Hari-hari yang dipenuhi kalimat,"Mbak harus ngalah.","Adiknya kok gak diawasi" atau "Mbak kan sudah cukup kasih sayangnya"

Ku pikir, kasih sayang ada batas waktunya.

Aku yang masih kecil sangat hobi mencoret dinding dengan tulisan yang sangat kecil. Salah satu tulisan yang aku ingat adalah aku benci-diikuti daftar nama keluargaku. Coretan lain yang masih  sangat membekas dalam ingatanku yaitu "Aku ingin pergi dari sini".

Ketika SD aku selalu dijemput naik becak. Sopir becak itu bernama Pak Osok. Beliau sudah aku anggap keluarga sendiri. Pengalaman ku selama menjadi pelanggan tetapnya adalah berteman dengan seorang bocah laki-laki baik yang mengajariku cara membaca dan menulis huruf Braille. Namanya Rendi. Bocah laki-laki pertama yang mampu berkawan baik denganku. Sejak dahulu, aku jarang memiliki teman laki-laki bahkan hingga sekarang. Perempuan juga sebenarnya. Kalau dipikir-pikir aku hanya memiliki segelintir orang yang bisa dianggap teman. Mungkin hanya 3 atau 5, jangan tanya gendernya, semuanya perempuan.

Kembali pada topik becak, aku pernah dibulli habis-habisan oleh anak-anak SD di desaku. Kebetulan, ibuku menyekolahkanku di SD yang jauh dari rumah padahal tidak jauh dari rumah ada SD Negeri juga. Mungkin dahulu ibuku ingin aku mendapatkan pendidikan yang baik dengan SD yang memiliki reputasi baik. Entahlah, menurutku keduanya sama saja. 

Pembulian itu dilakukan secara keroyokan. Mental pembuli memang cemen pada dasarnya. Mereka mencegat becak Pak Osok di jalan yang tidak jauh dari SD dan gapura desaku, melempariku dengan sayur kelor dan meneriakiku entah apa-aku sudah lupa. Menceritakan ini kembali membuatku sangat sedih dan malu. Pak Osok yang sudah berusia paruh baya mencoba menghalau sekumpulan bocah-bocah SD tidak jelas ini tapi 2 dibanding-entalah mungkin 7 membuat mereka begitu percaya diri dan berhenti ketika mereka sudah selesai dengan urusannya. 

Apa yang bisa ku lakukan setelah kejadian demikian, menangis sambil mengadu kepada ibuku. Ibuku bertanya apa salahku. Aku pun juga. Bertanya apa salahku. Semua kepelikan ini berakhir dengan ibu dan nenekku yang mencari para pelaku di sekolahnya. Suatu kali setelah kejadian itu, mereka berjalan melewati becakku masih dengan mencemooh, sama sekali tidak terbesit perasaan bersalah. Tidak peduli betapa kejadian itu memberikan titik merah yang begitu lebar. Perasaan sakit hati. 

Beberapa hidup dari masa kecil bahagia. Sebagian orang hidup dari masa kecil yang traumatis. Lalu hidup berdampingan membangun ekosistem...

.... dengan menciptakan kisah yang hampir sama. 

Clouds