Rabu, 02 Juni 2021
Menyelamatkanmu Dariku
Jumat, 16 April 2021
Menjadi Manusia Toksik
Beberapa manusia dilahirkan menyerupai tanaman mawar. Begitu indah dipandang tapi akan sangat menyakitkan dan tidak nyaman ketika didekati dan dipegang.
Beberapa manusia tercipta dan terbentuk dengan ditempa berulang kali layaknya permata. Meskipun, tidak semua menjadi permata. Banyak yang berakhir menyedihkan menjadi abu.
Beberapa manusia berlari seakan dikejar anjing galak di belakangnya. Meskipun sebenarnya tidak apa-apa. Mereka menciptakan realita mereka sendiri tanpa benar-benar membuka mata. Hingga napasnya terengah-engah dan mati sesak.
Seumur hidup aku hidup atas pengakuan oranglain. Harga diriku terletak pada pendapat orang terhadapku. Aku begitu sibuk mendengarkan apa yang dikatakan orang terhadapku. Malangnya, aku tidak mau mengakui itu dan menunjukkan sikap defensif. Aku tidak baik-baik saja ketika membiarkan diriku menjadi orang yang demikian.
Ketika semua orang terasa pergi meninggalkanku. Aku hanya punya diriku sendiri untuk melihat ke belakang. Merunut kejadian demi kejadian yang terjadi. Dan yang terjadi adalah perseteruan besar di dalam kepalaku.
"Kamu pikir dengan meminta maaf cukup untuk memperbaiki semua yang sudah terjadi. Itu hanya kamu egois yang kemudian berpikir bahwa minta maaf cukup mengangkat semua kegelisahanmu sendiri. Tapi tidak akan pernah membuat semuanya kembali seperti awal."
Awalnya kata-kata juga menyakitkan bagiku seperti kata-kata dia yang lain. Tapi, setelah ku pikirkan matang-matang. Untuk yang satu ini, dia ada benarnya.
Aku terlalu naif berpikir bahwa dengan meminta maaf semuanya akan berbalik seperti dulu. Aku sendiri belum sembuh. Bagaimana bisa aku seperti menuntut oranglain untuk segera sembuh dan baik kepadaku.
Aku harus sangat baik kepada diriku sendiri meskipun diluar sana begitu banyak hal yang mudah membuatku takut, sakit, marah dan kecewa. Aku harus sangat erat memeluk diriku sendiri saat oranglain begitu mudah membuang, melempar dan meninggalkanku. Dengan begitu duriku tidak terlalu tajam dan berubah menjadi sebatang bunga dandelion yang sederhana dan indah.
Selasa, 06 April 2021
Meskipun Aku Tidak Mengerti, Bicaralah
Setiap hubungan dibutuhkan komunikasi aktif yang terjalin. Karena membangun hubungan sama seperti interaksi sosial lainnya yang tidak bisa dilakukan sendirian. Dan seperti hubungan sosial yang lainnya, apapun yang dilakukan bersama oranglain diluar diri kita itu tidak mudah. Butuh banyak percobaan dan ribuan kegagalan untuk bisa memahami isi kepala seseorang.
Seperti aku yang gagal membacamu.
Aku selalu berharap terlepas dari banyaknya orang-orang yang tersakiti akan hubunganku dan kamu, kita akan bisa melewatinya. Namun, aku terlalu naif untuk memaksamu berubah menjadi sosok yang aku mau. Aku terlalu percaya bahwa semua hal indah milik kita berdua akan selalu ada dan seterusnya bertahan.
Andaikan saja kamu mau mengerti. Andaikan saja aku mampu mengerti.
Tapi, meskipun kita tidak saling mengerti. Aku hanya ingin bicara. Padamu.
Meskipun nantinya aku tidak mengerti, bicaralah...
Dan dengarkan saja apabila nanti yang bisa kulakukan hanya menangis.
Selasa, 30 Maret 2021
Kenapa Aku Tidak Bahagia?
Selama ini aku hidup dengan menggantungkan harapan pada sesuatu yang diluar kendaliku. Nasib, finansial, asmara dan bahkan pandangan orang terhadapku. Kalau aku bekerja di pemerintahan aku akan membuat orangtuaku bahagia sehingga aku bahagia. Kalau aku mempunyai uang yang banyak aku akan bahagia. Kalau kekasihku mampu menjadi orang yang ideal untukku maka aku akan bahagia. Kalau orang lain menganggapku sebagai sosok yang baik dan dapat diandalkan maka aku akan bahagia.
Faktanya, aku tidak bahagia. Aku sudah bekerja di pemerintahan, orangtuaku bangga. Aku tidak bahagia. Aku lupa apa yang benar-benar ingin ku lakukan dalam hidupku. Mimpiku yang sesungguhnya. Aku mempunyai gaji tetap di dalam rekeningku. Aku tidak bahagia. Kekosonganku membuatku terbiasa berbelanja secara berlebih dan tidak mampu mengatur keuanganku dengan baik sehingga aku tidak tahu cara menabung. Aku putus setelah 4 tahun lebih pacaran. Aku tidak bahagia setelah menyadari banyak hal yang sudah salah sejak awal memulai hubungan ini.
Aku tidak tahu bahwa banyak hal yang membuatku bahagia adalah semua keinginan yang sesungguhnya di luar kendaliku. Hal yang seharusnya aku biasakan dan tahu sejak awal sesungguhnya adalah bagaimana mengatur perspektif, nilai dan opini yang aku proses di dalam otakku. Stoic mengajarkanku bahwa kebahagiaan sesungguhnya bukan apa yang ada di luar kendali kita. Selama aku lebay mengurus dan mengharapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak bisa ku kendalikan, lebih baik aku sibuk belajar untuk mengubah sudut pandangku untuk sama sekali tidak beremosi. Maka, aku akan bahagia.
Jumat, 19 Maret 2021
Demanding
Akhir-akhir aku berpikir keras tentang cinta dan siklus pertemanan dalam hidupku. Aku berpikir tentang bagaimana aku harus bersikap dan memperbaiki masa kini. Satu hal yang terpikir adalah teman lamaku yang pergi (atau mungkin ku dorong untuk pergi, entahlah) dari hidupku. Satu permasalahan pelik yang membuatku benar-benar berpikir keras entah bagaimana aku harus menghadapinya dan apakah aku ingin mereka kembali.
Sejujurnya, aku hanya terpikir tentang betapa menyakitkannya kata-kata mereka terhadapku. Aku tidak tahu apakah ini karena ekspektasi mereka tentang "bagaimana teman yang baik harus bersikap", yang pasti aku sudah keluar dari daftar.
Aku pikir teman yang baik seharusnya mau menerima. Mereka pikir, mungkin teman yang baik harus tahu diri kalau sudah dibantu. Tapi aku hanya ingin mereka tetap ada. Ada ketika aku ingin tiba-tiba datang. Ada ketika aku ingin mereka bercerita tentang masalahnya. Ada ketika aku ingin menyampaikan kabar bahagia. Tapi yang mereka ingat mungkin hanya saat ketika aku membutuhkan tempat sampah untuk membuang semua masalah hidup.
Mungkin di masa lalu ada beberapa kesempatan aku sangat menuntut teman-temanku juga. Mungkin dari situlah semua berasal. Aku juga ingin agar mereka mampu menjelaskan semua perasaannya tanpa harus menyalahkanku. Aku sudah cukup merasa buruk. Aku tidak butuh diperlakukan lebih buruk lagi.
Kalau saja mereka mau melihat usahaku untuk kembali ke tempat yang lebih baik. Membalikkan kondisi ku yang sangat terpuruk dan kembali ceria. Menjadi pribadi yang lebih sehat secara mental. Kenapa mereka tidak bisa berkata lebih sopan dan menghargaiku. Mungkin dengan begitu, keadaan tidak seburuk ini. Sudah cukup aku disalahkan oleh diriku sendiri. Setidaknya, mereka bisa berkata lebih baik. Bukan menoleh ke arah lain ketika aku sedang berbicara dan menyepelakanku. Seolah aku tidak berharga.
Kalau memang tidak ada simpati. Bukankah seharusnya kita memang tidak perlu berteman sejak awal.
Kalau keberadaanku hanya lelucon. Bukankah seharusnya kalian tidak perlu menuntutku lebih jauh hanya untuk menginjak hati yang sedang ingin pulih ini.
Aku akan hidup menjadi orang yang lebih baik. Aku akan bahagia dengan caraku. Terimakasih atas sarannya. Tapi aku hanya butuh seorang pendengar yang baik.
Minggu, 17 Januari 2021
Move On
Kita berdua berada di persimpangan jalan. Jalan satunya aku tak suka. Jalan yang lain, aku lebih suka. Menyedihkan karena kita tidak sepaham. Kamu tidak bisa diganggu sedangkan aku hanya rindu. Aku menganggap kamu beranjak pergi. Kamu mengatakan aku terlalu egois.
Bertemu denganmu seperti menelan permen karet yang buruk bagi gigiku. Mengenalmu adalah merasakan manis dari rasanya namun sakit ketika mengunyah sari-sarinya. Kamu adalah hal terindah yang buruk bagi kesehatanku.
Berhenti mencintaimu merupakan keputusan yang spontan dan penuh amarah. Tujuannya hanya satu. Aku ingin kamu terluka sebanyak kamu sudah melukaiku. Setelah itu, aku tidak semakin bahagia. Aku terpuruk. Jatuh di lubang nestapa. Dahulu aku pernah berpikir bahwa kamu orang yang bisa kuandalkan. Ketika aku hanya sedang kesepian dan butuh teman bicara.
Berhenti mencintaimu merupakan keputusan bulat untuk tidak memulai komitmen apapun dengan siapapun. Bukan karena aku tidak yakin ada orang yang mau menyayangiku. Lebih karena aku tidak mau menyakiti dan tersakiti oleh siapapun lagi. Enough is enough.
Aku masih menyalahkanmu. Aku masih terlalu marah padamu. Aku masih merindukan sahabat-sahabatku.
Sialnya lagi, aku masih terlalu membenci untuk mencintaimu.
Move on adalah aku yang kemudian dengan bangga mengatakan pada semua orang bahwa aku sudah bebas dari hubungan toxic ini. Aku tidak tahu apakah aku akan menikah. Atau bahkan memutuskan menikah. Sejak hampir 5 tahun, pernikahan dibayanganku adalah merawatmu dan semuanya sudah lenyap. Terimakasih untuk semuanya. Maaf untuk keterbatasan ini.
Selasa, 01 Desember 2020
Letting Go
Jumat, 24 April 2020
Teman
Surat itu berisi tentang perasaan seorang gadis cilik kepada gadis cilik lainnya yang ingin dia ajak berteman. Aku mungkin hampir tidak pernah membahasnya dengan Almarhumah Lele-si pengirim surat (menjadi hal yang sealu aku sesalkan). Tapi, ada banyak hal yang terjadi diantara kami berdua sejak surat itu sampai di tanganku dan tidak pernah aku balas. Kita tetap berteman tapi entah lah, pertemanan kami sedikit aneh dan terkadang sulit untuk dimengerti bahkan kepada satu sama lain.
Tumbuh besar dengan pengalaman yang sedikit akan persahabatan, di umur kepala dua ini aku mengerti bahwa aku belum-belum benar menyayangi teman-temanku seperti mereka menyayangi ku. Aku yang dahulu hingga sekarang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Aku yang selalu egois dengan aku. Aku yang tidak pernah mengingat hari ulang tahun teman-temanku karena malas. Semua sikap ini sedikit banyak melukai teman-teman. Belum ditambah sederet kebodohan akan sikap dan perkataan selama teman-temanku membutuhkan ku sebagai seorang pendengar atau orang yang didatangi ketika mereka sedang terpuruk.
Aku hampir jarang ada.
Aku berakhir menjadi seseorang yang menghabiskan waktunya dengan sendirian. Aku marah kepada semua hal dan orang-orang di sekitar ku saat aku merasa benar-benar kesepian. Aku lupa cara berkata baik dan meminta tolong untuk ditemani karena aku tidak ingin sendiri. Aku sudah lupa caranya.
Tidak ada yang mengatakan padaku bahwa ada seseorang di sana yang menunggu ku untuk bermain bersama. Sejak aku tidak pernah benar-benar menghargai apa yang ada sebelumnya. Hingga kini, aku hanya berteman sepi dan kegelapan di sekelilingku.
Terimakasih, sudah pernah hadir dan membuatku tertawa.
Maaf, karena tidak bisa membuatmu tinggal lebih lama.
Teman....
Selasa, 03 Maret 2020
Nostalgia : Masa Kecil
Semua orang yang aku anggap teman. Pada akhirnya akan menjadi orang yang pertama pergi meninggalkanku sendirian. Kepergian demi kepergian yang membuatku tumbuh menjadi-entahlah seseorang yang suka memberi batas pada orang baru.
Aku yang masih kecil sangat hobi mencoret dinding dengan tulisan yang sangat kecil. Salah satu tulisan yang aku ingat adalah aku benci-diikuti daftar nama keluargaku. Coretan lain yang masih sangat membekas dalam ingatanku yaitu "Aku ingin pergi dari sini".
Kembali pada topik becak, aku pernah dibulli habis-habisan oleh anak-anak SD di desaku. Kebetulan, ibuku menyekolahkanku di SD yang jauh dari rumah padahal tidak jauh dari rumah ada SD Negeri juga. Mungkin dahulu ibuku ingin aku mendapatkan pendidikan yang baik dengan SD yang memiliki reputasi baik. Entahlah, menurutku keduanya sama saja.